Manusia mengetahui bahwa dirinya hidup, tetapi mengetahui bahwa hidup tidak selalu berarti memahami hakikat kehidupan. Kehidupan sering kali dijalani melalui kebiasaan, kebutuhan, keinginan, tuntutan lingkungan, dan berbagai keadaan yang datang silih berganti. Manusia dapat menjalani kehidupan selama puluhan tahun tanpa benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan hidup yang sejati.
Kawruh Urip Sejati hadir sebagai pemahaman yang mengarahkan manusia untuk melihat kehidupan secara lebih mendalam. Kawruh ini tidak sekadar membicarakan kehidupan jasmani, tetapi mengajak manusia memahami sumber kehidupan, hakikat manusia, Jiwa, kesadaran, cipta-rasa-karsa, serta bagaimana semua pemahaman tersebut diwujudkan dalam laku.
Kawruh Urip Sejati memiliki hubungan erat dengan Kawruh Sejati, tetapi keduanya tidak perlu disamakan. Kawruh Sejati menjadi dasar pemahaman mengenai kasunyatan sejati, sedangkan Kawruh Urip Sejati mengarahkan pemahaman tersebut secara khusus kepada kehidupan.
Sementara itu, Urip Sejati bukan sekadar nama bagi suatu pengetahuan. Urip Sejati menunjuk pada kehidupan yang dipahami dan dijalani sesuai dengan hakikatnya.
Untuk memahami Kawruh Urip Sejati secara utuh, terdapat sembilan pokok pemahaman yang saling berhubungan, seperti diuraikan berikut ini.
1. Memahami Sumber Panguripan.
Pokok pertama adalah memahami bahwa kehidupan memiliki sumber.
Manusia tidak menciptakan kehidupannya sendiri. Manusia hadir dalam kehidupan yang telah ada dan menerima kehidupan sebagai sesuatu yang tidak diciptakannya. Karena itu, pemahaman mengenai kehidupan perlu dimulai dari kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan.
Sang Sumber Panguripan bukan sekadar salah satu unsur dalam kehidupan, melainkan sumber dari kehidupan itu sendiri. Manusia perlu memahami bahwa keberadaan hidup bukan semata-mata hasil kehendak manusia.
Pemahaman terhadap sumber kehidupan menumbuhkan sikap rendah hati. Manusia tidak menempatkan dirinya sebagai penguasa mutlak atas kehidupan, melainkan menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan yang bersumber pada sesuatu yang lebih mendasar.
2. Memahami Hakikat Urip Sejati.
Pokok kedua adalah memahami apa yang dimaksud dengan Urip Sejati.
Urip Sejati tidak sama dengan sekadar hidup secara biologis. Raga memang hidup, tumbuh, bergerak, mengalami perubahan, dan pada akhirnya mengalami kematian. Namun kehidupan manusia tidak berhenti pada pengertian jasmani tersebut.
Urip Sejati berkaitan dengan pemahaman terhadap hakikat kehidupan dan bagaimana kehidupan tersebut dijalani. Karena itu, manusia perlu membedakan antara sekadar memiliki kehidupan dengan memahami kehidupan.
Seseorang dapat hidup lama tanpa memahami arah kehidupannya. Sebaliknya, seseorang yang mulai memahami hakikat kehidupan akan berusaha menjalani hidupnya dengan lebih sadar, jernih, tulus, dan utama.
3. Memahami Hakikat Manusia.
Pokok ketiga adalah memahami manusia secara lebih utuh.
Manusia tidak hanya terdiri atas raga. Raga merupakan bagian jasmani yang berhubungan dengan kehidupan fisik. Di dalam manusia juga terdapat Jiwa sebagai dimensi rohani.
Pemahaman ini penting karena manusia sering kali mengidentifikasikan dirinya hanya dengan tubuh, nama, pekerjaan, kedudukan, kepemilikan, atau pengalaman hidup. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi tidak seluruhnya menjelaskan hakikat dirinya.
Dalam kedalaman Jiwa terdapat Jatining Dhiri atau Jiwatman, yang juga dikenal sebagai Guru Sejati atau Kawruhanta Acarya. Pemahaman mengenai kedalaman diri membantu manusia melihat bahwa dirinya memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar keberadaan lahiriah.
Dengan memahami manusia secara utuh, seseorang dapat mulai melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih mendalam.
4. Memahami Hubungan Jiwa dan Kehidupan
Pokok keempat adalah memahami hubungan Jiwa dengan kehidupan.
Raga dan Jiwa tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang sama. Raga merupakan bagian jasmani yang memiliki keterbatasan. Ketika kehidupan jasmani berakhir, raga mengalami kematian.
Jiwa merupakan dimensi rohani manusia. Karena itu, memahami kehidupan tidak cukup hanya dengan mengamati tubuh dan berbagai proses biologisnya.
Pemahaman mengenai Jiwa juga membawa manusia kepada pengenalan terhadap kedalaman dirinya. Manusia tidak hanya perlu bertanya mengenai apa yang dimilikinya, tetapi juga mengenai siapa dirinya secara lebih mendalam.
Dari sinilah Kawruh Urip Sejati mengarahkan manusia untuk tidak berhenti pada kehidupan lahiriah, tetapi memahami kehidupan sampai pada dimensi batinnya.
5. Memahami Fungsi Kesadaran.
Pokok kelima adalah memahami kesadaran.
Kesadaran memiliki fungsi penting karena manusia tidak cukup hanya hidup; manusia perlu menyadari bagaimana dirinya hidup.
Kesadaran membantu manusia mengenali pikiran, perasaan, kehendak, kebiasaan, dan berbagai dorongan yang muncul dalam dirinya. Dengan kesadaran, manusia dapat melihat keadaan batinnya sebelum langsung mengikuti dorongan tersebut.
Kesadaran bukan Kawruh Sejati. Kawruh Sejati merupakan kawruh mengenai kasunyatan sejati, sedangkan kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan dirinya dan keadaan kehidupannya.
Namun, keduanya memiliki hubungan. Kawruh memberikan pepadhang, sedangkan kesadaran memungkinkan manusia menyadari dan menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan. Tanpa kesadaran, manusia mudah menjalani kehidupan secara otomatis.
6. Memahami Cipta, Rasa, dan Karsa
Pokok keenam adalah memahami tiga unsur penting dalam kehidupan batin manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa.
Cipta berhubungan dengan cara manusia berpikir dan memahami. Rasa berhubungan dengan pengalaman batin dan bagaimana manusia merasakan kehidupan. Karsa berhubungan dengan kehendak yang mendorong manusia untuk bertindak.
Ketiganya saling berhubungan. Apa yang dipahami melalui cipta dapat mempengaruhi rasa, dan rasa dapat mempengaruhi karsa. Karsa kemudian diwujudkan dalam tindakan.
Karena itu, Kawruh Urip Sejati mengarahkan cipta kepada Weninging Cipta, rasa kepada Tulusing Rasa, dan karsa kepada Karsa Sejati atau Karsa Utama.
Tujuannya bukan menghilangkan cipta, rasa, atau karsa, melainkan menata ketiganya agar kehidupan manusia semakin selaras dengan keutamaan.
7. Memahami Kawruh sebagai Pepadhang Kehidupan
Pokok ketujuh adalah memahami kedudukan kawruh dalam kehidupan.
Kawruh tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Kawruh harus menjadi pepadhang yang membantu manusia melihat kehidupan dengan lebih jernih.
Dalam hubungan ini, Kawruh Sejati menjadi dasar, sedangkan Kawruh Urip Sejati memberikan penekanan pada bagaimana pemahaman mengenai kehidupan tersebut dijalani.
Manusia perlu membedakan antara mengetahui sesuatu dengan benar-benar memahami dan menghayatinya. Seseorang dapat mengetahui bahwa kesombongan tidak baik, tetapi tetap bersikap sombong. Ia dapat mengetahui bahwa kemarahan merugikan, tetapi tetap dikuasai kemarahan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kawruh belum menjadi laku.
Karena itu, pemahaman Kawruh Urip Sejati harus membawa perubahan dalam kehidupan.
8. Memahami Laku sebagai Perwujudan Kawruh.
Pokok kedelapan adalah memahami bahwa kawruh harus diwujudkan melalui laku.
Laku merupakan penerapan nyata dari pemahaman yang dimiliki manusia. Kawruh yang tidak memengaruhi kehidupan akan mudah menjadi sekadar pengetahuan.
Laku tidak harus selalu berupa kegiatan khusus. Cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, cara menghadapi masalah, cara menggunakan kekuasaan, cara menerima keberhasilan, dan cara menghadapi kegagalan semuanya merupakan bagian dari laku.
Karena itu, perubahan dalam kehidupan menjadi salah satu ukuran penting dari pemahaman Kawruh Urip Sejati.
Jika kawruh benar-benar dipahami, manusia seharusnya semakin mampu mengurangi keakuan, menata keinginan, mengendalikan dorongan yang merugikan, serta meningkatkan kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan keutamaan karsa.
9. Memahami Kawruh Urip Sejati sebagai Pedoman/Arah Kehidupan.
Pokok kesembilan sekaligus menjadi arah dari keseluruhan pemahaman adalah memahami Kawruh Urip Sejati sebagai bagian dari kehidupan yang dijalani sesuai dengan hakikatnya.
Urip Sejati bukan sekadar keadaan yang dicari melalui pengalaman luar biasa. Urip Sejati harus terlihat dalam kehidupan yang sedang dijalani.
Ketika manusia memahami sumber kehidupan, memahami dirinya, mengenali Jiwa, mengembangkan kesadaran, menata cipta-rasa-karsa, memahami kawruh, dan mewujudkannya dalam laku, maka kehidupan mulai diarahkan kepada hakikatnya.
Dengan demikian, Kawruh Urip Sejati bukan hanya sesuatu yang dipikirkan atau dibicarakan. Ia harus menjadi kenyataan dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Ukuran utamanya bukan banyaknya istilah yang dikuasai, banyaknya pengalaman batin, atau banyaknya kegiatan lahiriah, tetapi perubahan kualitas kehidupan itu sendiri.
Kesatuan Sembilan Pokok Pemahaman.
Kesembilan pokok tersebut sebenarnya merupakan satu rangkaian yang saling berhubungan.
Sang Sumber Panguripan menjadi dasar untuk memahami dari mana kehidupan berasal. Dari sana manusia memahami hakikat Urip Sejati, kemudian memahami hakikat manusia dan Jiwa. Pemahaman tersebut membawa manusia kepada pentingnya kesadaran.
Kesadaran membantu manusia melihat keadaan cipta, rasa, dan karsa. Kawruh menjadi pepadhang untuk menata ketiganya. Pemahaman tersebut kemudian diwujudkan melalui laku, hingga akhirnya kehidupan diarahkan kepada Urip Sejati.
Dengan demikian, sembilan pokok tersebut bukan sembilan pengetahuan yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan rangkaian pemahaman yang menghubungkan sumber kehidupan, manusia, kesadaran, kawruh, dan laku.
Penutup.
9 Pokok Pemahaman Kawruh Urip Sejati dapat diringkas menjadi: Memahami Sumber Panguripan. Memahami Hakikat Urip Sejati. Memahami Hakikat Manusia. Memahami Hubungan Jiwa dan Kehidupan. Memahami Fungsi Kesadaran. Memahami Cipta, Rasa, dan Karsa. Memahami Kawruh sebagai Pepadhang Kehidupan. Memahami Laku sebagai Perwujudan Kawruh. Memahami Urip Sejati sebagai Arah Kehidupan.
Kesembilan pokok tersebut menunjukkan bahwa Kawruh Urip Sejati tidak dimaksudkan hanya untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu hidup. Kawruh ini mengajak manusia memahami kehidupan dari sumbernya, mengenali dirinya secara lebih mendalam, mengembangkan kesadaran, menata cipta-rasa-karsa, kemudian mewujudkan pemahaman tersebut dalam laku.
Dengan demikian, hubungan antara Kawruh Sejati, Kawruh Urip Sejati, dan Urip Sejati menjadi jelas. Kawruh Sejati menjadi dasar pemahaman tentang kasunyatan sejati; Kawruh Urip Sejati memberikan pemahaman mengenai kehidupan berdasarkan dasar tersebut; sedangkan Urip Sejati merupakan kehidupan yang dijalani sesuai dengan hakikatnya.
Pada akhirnya, kawruh tidak dinilai dari seberapa banyak yang dapat diucapkan, tetapi dari seberapa dalam ia mengubah kehidupan. Ketika pemahaman menjadi kesadaran, kesadaran menjadi laku, dan laku semakin selaras dengan hakikat kehidupan, maka Kawruh Urip Sejati mulai menemukan maknanya.
FAQ - 9 Pokok Pemahaman Kawruh Urip Sejati.
1. Apa yang dimaksud dengan 9 Pokok Pemahaman Kawruh Urip Sejati?
Sembilan pokok tersebut merupakan kerangka untuk memahami kehidupan secara menyeluruh, mulai dari sumber kehidupan, hakikat manusia dan Jiwa, kesadaran, cipta-rasa-karsa, kawruh, laku, hingga Urip Sejati.
2. Apakah Kawruh Urip Sejati sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak persis sama. Kawruh Sejati menjadi dasar pemahaman mengenai kasunyatan sejati, sedangkan Kawruh Urip Sejati memberikan penekanan khusus pada pemahaman tentang kehidupan.
3. Mengapa kesadaran menjadi salah satu pokok utama?
Karena manusia perlu menyadari bagaimana dirinya hidup. Kesadaran membantu manusia mengenali cipta, rasa, karsa, serta berbagai dorongan yang memengaruhi kehidupannya.
4. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan Urip Sejati?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dari kehidupan batin manusia yang perlu ditata menuju Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Karsa Sejati agar kehidupan semakin selaras dengan keutamaan.
5. Mengapa laku termasuk dalam 9 pokok pemahaman?
Karena kawruh tidak cukup hanya dipahami. Laku merupakan perwujudan nyata dari pemahaman, sehingga perubahan kehidupan menjadi bagian penting dari pemahaman Urip Sejati.
6. Apa tujuan akhir memahami Kawruh Urip Sejati?
Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi memahami kehidupan secara lebih mendalam dan menjalani kehidupan sesuai dengan hakikatnya sebagai Urip Sejati.
