Kesadaran merupakan salah satu bagian penting dalam memahami kehidupan manusia. Namun, kesadaran sering kali disamakan dengan pikiran, perasaan, ingatan, pengalaman batin, atau kemampuan mengetahui sesuatu.
Dalam perspektif Kawruh Sejati, kesadaran perlu dikenali secara lebih mendalam agar tidak terjadi kekeliruan antara kesadaran dengan isi kesadaran.
Manusia dapat menyadari pikiran, merasakan emosi, mengenali keinginan, mengingat pengalaman, dan mengamati keadaan dirinya. Semua itu menunjukkan adanya kesadaran. Akan tetapi, sesuatu yang disadari tidak dengan sendirinya merupakan kesadaran itu sendiri.
Karena itu, mengenali kesadaran berarti memahami apa yang disebut kesadaran, apa yang bukan kesadaran, serta bagaimana kedudukan kesadaran dalam diri manusia.
Berikut sembilan prinsip untuk mengenali kesadaran dalam perspektif Kawruh Sejati.
1. Kesadaran Bukan Pikiran.
Pikiran merupakan aktivitas batin manusia yang menghasilkan gagasan, pertimbangan, ingatan, penilaian, dan berbagai bentuk pemikiran.
Namun, manusia dapat menyadari bahwa dirinya sedang berpikir. Ketika seseorang mengetahui, “saya sedang memikirkan sesuatu,” terdapat perbedaan antara pikiran yang sedang berlangsung dengan kesadaran terhadap pikiran tersebut.
Karena itu, kesadaran tidak dapat begitu saja disamakan dengan pikiran. Pikiran dapat berubah dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Kesadaran memungkinkan perubahan tersebut dikenali. Dengan membedakan keduanya, manusia mulai memahami bahwa kesadaran memiliki kedudukan yang berbeda dari aktivitas berpikir.
2. Kesadaran Bukan Rasa.
Manusia memiliki berbagai macam rasa. Senang, sedih, takut, marah, kecewa, tenteram, dan berbagai keadaan rasa dapat muncul silih berganti.
Namun manusia juga dapat menyadari bahwa dirinya sedang merasa senang, sedih, takut, atau marah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa rasa merupakan sesuatu yang dapat disadari.
Karena itu, rasa tidak dapat disamakan begitu saja dengan kesadaran. Rasa merupakan salah satu isi pengalaman batin yang dapat dikenali oleh kesadaran.
Pembedaan ini penting agar manusia tidak menganggap setiap pengalaman emosional sebagai hakikat kesadaran.
3. Kesadaran Bukan Karsa atau Karep.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki berbagai karep, yaitu keinginan, dorongan, kecenderungan, dan kehendak untuk memperoleh atau melakukan sesuatu.
Karep dapat berubah sesuai keadaan.
Seseorang yang menginginkan sesuatu hari ini dapat berubah keinginannya pada hari berikutnya. Bahkan dalam satu hari, berbagai keinginan dapat muncul dan hilang.
Manusia juga dapat menyadari bahwa dirinya sedang menginginkan sesuatu.
Karena itu, karsa atau karep merupakan sesuatu yang dapat dikenali oleh kesadaran, bukan kesadaran itu sendiri.
Pemahaman ini penting untuk mengenali ego. Ketika manusia berkata, “aku ingin,” keinginan tersebut belum tentu merupakan hakikat dirinya. Ia adalah dorongan yang muncul dan dapat diamati.
4. Kesadaran Mampu Mengenali Isi Batin.
Salah satu ciri penting kesadaran adalah kemampuannya untuk mengetahui atau mengenali apa yang berlangsung dalam diri.
Manusia dapat mengetahui bahwa dirinya sedang berpikir. Manusia dapat menyadari bahwa dirinya sedang marah. Manusia dapat mengetahui bahwa dirinya menginginkan sesuatu.
Dengan demikian, pikiran, rasa, dan karep dapat menjadi objek pengenalan dalam kesadaran.
Prinsip ini membantu membedakan antara yang dikenali dan kemampuan untuk mengenali.
Selama sesuatu masih dapat dikenali sebagai pikiran, rasa, atau karep, maka sesuatu tersebut tidak tepat langsung disamakan dengan kesadaran.
5. Kesadaran Bukan Ego.
Ego atau keakuan sering muncul dalam bentuk pengakuan terhadap diri: aku paling benar, aku paling tahu, aku harus mendapatkan ini, aku tidak boleh kehilangan itu, dan sebagainya.
Ego berkaitan dengan konstruksi mengenai “aku” yang terbentuk dari pikiran, pengalaman, keinginan, penilaian, dan kepentingan.
Namun manusia juga dapat menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai oleh keakuan tersebut.
Karena itu, ego bukan kesadaran.
Kesadaran justru memungkinkan manusia mengenali adanya ego dalam dirinya. Dari sini dapat dipahami bahwa kesadaran tidak seharusnya disamakan dengan setiap pikiran yang menggunakan kata “aku” atau setiap keinginan yang dirasakan sebagai kehendak pribadi.
6. Kesadaran Berbeda dari Pengalaman.
Pengalaman manusia selalu berubah.
Ada pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ada pengalaman keberhasilan dan kegagalan. Ada pengalaman lahiriah maupun pengalaman batin.
Karena pengalaman berubah, pengalaman tidak dapat dijadikan ukuran tunggal mengenai hakikat kesadaran.
Manusia dapat menyadari pengalaman yang berbeda-beda tersebut. Ia dapat mengetahui bahwa dirinya pernah mengalami sesuatu, sedang mengalami sesuatu, atau mengingat sesuatu yang telah terjadi.
Dengan demikian, pengalaman merupakan sesuatu yang dialami dan dikenali, sedangkan kesadaran merupakan kemampuan untuk mengenali pengalaman tersebut.
Pembedaan ini mencegah manusia menganggap pengalaman tertentu sebagai ukuran mutlak tentang kesadaran.
7. Kesadaran Tidak Sama dengan Pengetahuan.
Pengetahuan merupakan sesuatu yang diketahui manusia. Pengetahuan dapat diperoleh melalui belajar, membaca, mengamati, mengalami, membandingkan, dan berpikir.
Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang sangat banyak, tetapi banyaknya pengetahuan tidak otomatis menunjukkan kedalaman kesadaran.
Sebaliknya, manusia dapat menyadari sesuatu sebelum mampu menjelaskannya secara panjang dalam bentuk pengetahuan.
Karena itu, kesadaran dan pengetahuan memiliki hubungan, tetapi bukan sesuatu yang sama.
Pembedaan ini juga penting dalam memahami Kawruh Sejati. Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan informasi yang harus memenuhi pikiran manusia. Kawruh Sejati merupakan pepadhang bagi manusia dalam memahami kasunyatan.
8. Kesadaran Berkaitan dengan Jatining Dhiri.
Dalam struktur Kawruh Sejati, Jiwa memiliki Jatining Dhiri atau Jiwatman, dan kesadaran berkaitan dengan keberadaan diri yang lebih dalam tersebut.
Karena itu, kesadaran tidak tepat dipahami hanya sebagai aktivitas otak atau rangkaian pikiran.
Kesadaran merupakan bagian penting dalam pengenalan diri manusia terhadap keberadaannya sendiri. Namun demikian, Jatining Dhiri/Jiwatman dan kesadaran juga tidak perlu dicampuradukkan sebagai istilah yang sama.
Jatining Dhiri menunjuk pada bagian terdalam dari Jiwa, sedangkan kesadaran menunjuk pada kemampuan menyadari atau mengetahui keberadaan dan pengalaman diri.
Pembedaan ini membantu menjaga struktur pemahaman tentang manusia agar tidak berhenti pada tubuh dan aktivitas pikiran semata.
9. Kesadaran Mengarah kepada Pengenalan Kasunyatan.
Mengenali kesadaran bukan tujuan yang berhenti pada kemampuan mengatakan, “saya sadar.” Kesadaran memiliki arti lebih jauh karena melalui kesadaran manusia dapat membedakan antara dirinya dengan berbagai isi batin yang muncul dalam kehidupan.
Manusia mulai mengenali bahwa pikiran berubah, rasa berubah, karep berubah, pengalaman berubah, dan keadaan kehidupan juga berubah.
Dari kemampuan membedakan tersebut terbuka kemungkinan untuk memahami sesuatu yang lebih mendasar mengenai keberadaan manusia dan kehidupan.
Karena itu, kesadaran dalam Kawruh Sejati tidak diarahkan sekadar kepada kesadaran psikologis, tetapi kepada pengenalan yang lebih dalam terhadap kasunyatan.
Kesembilan Prinsip sebagai Kerangka Pengenalan.
Kesembilan prinsip tersebut bukan sembilan latihan kesadaran dan bukan pula sembilan tingkatan yang harus dicapai secara berurutan.
Kesembilan prinsip merupakan kerangka untuk mengenali kesadaran dengan membedakannya dari berbagai hal yang sering disamakan dengannya.
Kesadaran bukan pikiran. Kesadaran bukan rasa. Kesadaran bukan karsa atau karep. Kesadaran mampu mengenali isi batin. Kesadaran bukan ego. Kesadaran berbeda dari pengalaman. Kesadaran tidak sama dengan pengetahuan. Kesadaran berkaitan dengan Jatining Dhiri dalam struktur keberadaan manusia. Dan kesadaran mengarah kepada pengenalan kasunyatan.
Dengan kerangka tersebut, manusia tidak lagi memahami kesadaran hanya sebagai keadaan “terjaga” atau mengetahui sesuatu secara biasa. Kesadaran mulai dipahami sebagai sesuatu yang perlu dikenali kedudukannya dalam diri manusia.
Penutup.
Dalam perspektif Kawruh Sejati, mengenali kesadaran membutuhkan kemampuan membedakan antara kesadaran dan apa yang disadari.
Pikiran dapat berubah. Rasa dapat berubah. Karep dapat berubah. Ego dapat berubah. Pengalaman dapat berubah. Pengetahuan juga dapat bertambah dan berubah. Namun manusia dapat menyadari seluruh perubahan tersebut.
Karena itu, memahami kesadaran tidak cukup dengan mendefinisikannya sebagai “kemampuan mengetahui”. Manusia perlu melihat hubungan antara kesadaran, Jiwa, Jatining Dhiri, cipta, rasa, karsa, dan kasunyatan.
Dari sinilah pengenalan kesadaran menjadi bagian penting dalam memahami manusia menurut Kawruh Sejati, hal mana bukan sekadar mengetahui bahwa diri sedang sadar, tetapi mengenali kedudukan kesadaran dalam keberadaan diri dan hubungannya dengan kasunyatan.
FAQ - 9 Prinsip Mengenali Kesadaran dalam Kawruh Sejati.
1. Apa yang dimaksud kesadaran dalam perspektif Kawruh Sejati?
Kesadaran adalah kemampuan untuk mengenali keberadaan dan berbagai isi batin, seperti pikiran, rasa, karsa, serta pengalaman diri.
2. Apakah kesadaran sama dengan pikiran?
Tidak. Pikiran merupakan aktivitas batin yang dapat dikenali oleh kesadaran. Karena itu, pikiran tidak sama dengan kesadaran.
3. Apakah rasa dan karep termasuk kesadaran?
Rasa dan karep merupakan bagian dari pengalaman batin yang dapat disadari. Keduanya tidak identik dengan kesadaran itu sendiri.
4. Mengapa kesadaran perlu dibedakan dari ego?
Karena ego atau keakuan dapat muncul sebagai pikiran, keinginan, dan kepentingan pribadi yang dapat dikenali oleh kesadaran.
5. Apa hubungan kesadaran dengan Jatining Dhiri?
Dalam struktur Kawruh Sejati, kesadaran berkaitan dengan keberadaan diri yang lebih dalam, yaitu Jatining Dhiri atau Jiwatman dalam Jiwa.
6. Apa tujuan mengenali kesadaran?
Tujuannya bukan sekadar mengetahui bahwa diri sedang sadar, tetapi memahami kedudukan kesadaran dalam diri dan mengarahkannya pada pengenalan kasunyatan.

Komentar
Posting Komentar