HAKIKAT KESADARAN DALAM KAWRUH URIP SEJATI

hakikat kesadaran dalam kawruh urip sejati
Pendahuluan.
Kesadaran merupakan salah satu unsur penting dalam memahami kehidupan manusia. Manusia dapat berpikir, merasakan, menghendaki, dan melakukan berbagai tindakan, tetapi semua itu belum tentu berlangsung dengan kesadaran yang benar.

Banyak bagian dari kehidupan manusia berjalan berdasarkan kebiasaan, dorongan, keinginan, emosi, pengalaman masa lalu, serta pengaruh lingkungan.

Karena itu, hidup dan sadar bukanlah dua pengertian yang sepenuhnya sama. Manusia dapat hidup secara jasmani, tetapi belum tentu menyadari hakikat kehidupan yang sedang dijalaninya. Manusia dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi belum tentu sadar terhadap keadaan dirinya sendiri.

Dalam Kawruh Urip Sejati, kesadaran memiliki kedudukan penting karena kehidupan perlu dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar mengikuti arus. Kesadaran membantu manusia melihat dirinya, mengenali keadaan batin, memahami dorongan yang muncul, serta menentukan sikap dan tindakan secara lebih jernih.

Namun, kesadaran perlu ditempatkan secara tepat. Kesadaran bukan Kawruh Sejati, bukan pula Urip Sejati. Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari dan memahami keadaan dirinya serta kehidupan yang sedang dijalaninya. Kawruh Sejati menjadi pepadhang mengenai kasunyatan sejati, sedangkan Urip Sejati merupakan kehidupan yang dijalani sesuai dengan hakikatnya.

Hakikat Kesadaran.
Hakikat kesadaran dalam Kawruh Urip Sejati terletak pada kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan dirinya dan apa yang berlangsung dalam kehidupannya.

Kesadaran bukan hanya keadaan terjaga dari tidur. Seseorang dapat terjaga secara fisik, dapat berbicara dan melakukan aktivitas, tetapi belum tentu memiliki kesadaran yang mendalam terhadap apa yang sedang dilakukannya.

Kesadaran berarti manusia mengetahui dan menyadari keadaan dirinya ketika berpikir, merasa, berkehendak, dan bertindak. Ia mampu melihat bahwa di dalam dirinya terdapat berbagai pikiran, perasaan, dan kehendak yang tidak selalu harus diikuti.

Kesadaran dengan demikian memberikan ruang bagi manusia untuk melihat dirinya sendiri. Ia tidak hanya menjadi pelaku kehidupan, tetapi juga mampu menyadari bagaimana dirinya menjalani kehidupan.

Kesadaran Bukan Sekadar Aktivitas Pikiran.
Kesadaran sering dipahami sebagai kemampuan berpikir atau mengetahui sesuatu. Padahal, aktivitas pikiran dan kesadaran tidak dapat begitu saja disamakan.
Pikiran dapat bekerja sangat aktif, tetapi manusia belum tentu sadar terhadap keadaan dirinya. Seseorang dapat berpikir panjang mengenai suatu masalah sambil tetap dikuasai oleh kemarahan, ketakutan, prasangka, atau keinginan.

Kesadaran memungkinkan manusia menyadari bahwa pikiran tersebut sedang berlangsung.

Perbedaan ini penting. Ketika manusia mampu menyadari pikirannya, ia tidak langsung menganggap setiap pikiran sebagai kebenaran. Ia dapat melihat, mempertimbangkan, dan menilai pikiran tersebut sebelum menjadikannya dasar tindakan.

Dengan demikian, kesadaran memiliki fungsi untuk membantu manusia tidak sepenuhnya dikuasai oleh aktivitas pikirannya sendiri.

Kesadaran dan Cipta
Cipta merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Melalui cipta, manusia berpikir, memahami, mempertimbangkan, dan membentuk berbagai pandangan.
Namun, cipta dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Pengalaman, kepentingan, keinginan, prasangka, ketakutan, dan kebiasaan dapat memengaruhi cara manusia melihat sesuatu.

Kesadaran membantu manusia mengenali keadaan cipta tersebut.

Ketika manusia menyadari bahwa pikirannya sedang dipengaruhi kemarahan atau prasangka, ia memiliki kesempatan untuk tidak langsung mengikuti pikiran tersebut. Ia dapat melihatnya dengan lebih tenang dan mempertimbangkan apakah pemikiran tersebut benar atau hanya merupakan reaksi sesaat. Dari sinilah kesadaran membantu manusia menuju Weninging Cipta.

Weninging Cipta bukan berarti mengosongkan pikiran atau berhenti berpikir. Weninging Cipta berarti cipta berada dalam keadaan yang lebih jernih sehingga manusia mampu melihat sesuatu tanpa terlalu dikuasai oleh gangguan batin dan kepentingan pribadi.

Kesadaran dan Rasa.
Kesadaran juga memiliki hubungan yang erat dengan rasa.

Rasa merupakan bagian dari kehidupan manusia yang membuat seseorang mengalami suka, duka, senang, sedih, marah, takut, kecewa, kasih, dan berbagai pengalaman batin lainnya.

Masalah bukan terletak pada adanya rasa tersebut, tetapi pada ketidakmampuan manusia menyadari dan menatanya.

Ketika seseorang marah tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai kemarahan, ia dapat langsung melakukan tindakan yang merugikan. Sebaliknya, ketika seseorang sadar bahwa kemarahan sedang muncul, ia memiliki kesempatan untuk tidak langsung mengikuti dorongan tersebut.

Kesadaran memberikan ruang antara munculnya rasa dan tindakan yang dilakukan.

Dari proses tersebut, manusia dapat mengembangkan Tulusing Rasa, yaitu rasa yang tidak mudah dikuasai oleh kepentingan dan keakuan.

Kesadaran dan Karsa.
Karsa merupakan kehendak yang mendorong manusia untuk bertindak. Karena itu, kesadaran juga berfungsi untuk mengenali kehendak yang muncul dalam diri.

Tidak semua kehendak merupakan karsa yang utama. Kehendak dapat muncul dari keserakahan, keakuan, iri hati, ketakutan, ambisi, atau dorongan untuk mendapatkan pengakuan.

Tanpa kesadaran, manusia dapat langsung mengikuti kehendak tersebut. Dengan kesadaran, manusia dapat berhenti dan melihat: apa yang sebenarnya saya kehendaki, dari mana kehendak ini muncul, dan apakah kehendak tersebut layak diwujudkan?

Kemampuan tersebut membantu manusia mengarahkan karsa menuju Karsa Sejati atau Karsa Utama.

Karsa Sejati bukan sekadar kehendak yang kuat. Ia merupakan kehendak yang berakar pada cipta yang wening dan rasa yang tulus serta diwujudkan dalam laku yang utama.

Kesadaran sebagai Kemampuan Melihat Diri.
Salah satu hakikat kesadaran adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri.

Manusia biasanya mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat keadaan dirinya sendiri. Ketika seseorang marah, ia sering lebih mudah melihat kesalahan pihak lain daripada menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai kemarahan.

Kesadaran membalik keadaan tersebut.

Manusia mulai belajar melihat dirinya sendiri sebelum menilai orang lain.

Ia dapat menyadari kesombongan dalam dirinya, mengenali keakuan, melihat rasa iri, memahami ketakutan, dan menyadari keinginan yang berlebihan.

Proses tersebut bukan untuk membuat manusia membenci dirinya sendiri. Sebaliknya, kesadaran memberikan kesempatan untuk mengenali diri secara jujur sehingga manusia dapat melakukan perbaikan.

Kesadaran dan Pengenalan Jiwa.
Kawruh Urip Sejati tidak hanya mengarahkan manusia untuk mengenali keadaan lahiriah, tetapi juga memahami kedalaman dirinya.
Manusia memiliki raga sebagai bagian jasmani dan Jiwa sebagai dimensi rohani. Karena itu, pengenalan diri tidak berhenti pada tubuh, nama, kedudukan, pekerjaan, atau pengalaman.

Dengan berkembangnya kesadaran, manusia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kedalaman yang tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan keadaan jasmani.

Dalam pemahaman Kawruh Sejati, di dalam Jiwa terdapat Jatining Dhiri atau Jiwatman, yang juga dikenal sebagai Guru Sejati atau Kawruhanta Acarya.

Pemahaman tersebut bukan berarti kesadaran itu sendiri adalah Jiwatman atau Guru Sejati. Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari dan mengenali kehidupannya, sedangkan pemahaman tentang Jiwatman berkaitan dengan kedalaman hakikat diri.

Kesadaran dan Kawruh Sejati.
Hubungan kesadaran dengan Kawruh Sejati perlu dijelaskan secara tegas. Kesadaran bukan Kawruh Sejati. Kawruh Sejati merupakan kawruh mengenai kasunyatan sejati. Ia menjadi pepadhang yang membantu manusia memahami kenyataan secara lebih mendalam.

Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari keadaan dirinya dan kehidupannya.

Keduanya berhubungan karena manusia membutuhkan kesadaran untuk memahami dan menerapkan kawruh dalam kehidupan. Namun, kesadaran tidak menjadi sumber dari Kawruh Sejati.

Dengan demikian, seseorang dapat memiliki kesadaran tertentu tanpa berarti telah memahami seluruh Kawruh Sejati.

Sebaliknya, pemahaman terhadap kawruh perlu diwujudkan melalui kesadaran agar tidak berhenti sebagai pengetahuan.

Kesadaran dan Kawruh Urip Sejati.
Dalam Kawruh Urip Sejati, kesadaran menjadi bagian penting karena kehidupan perlu dijalani dengan kesadaran terhadap hakikatnya.

Kawruh Urip Sejati memberikan pemahaman mengenai kehidupan: sumber kehidupan, hakikat kehidupan, manusia, Jiwa, kesadaran, cipta-rasa-karsa, dan laku.

Kesadaran membantu manusia melihat bagaimana semua pemahaman tersebut berhubungan dengan kehidupannya sendiri.

Dengan kesadaran, manusia dapat bertanya kepada dirinya: apakah cara saya hidup sudah sesuai dengan apa yang saya pahami? Apakah pemahaman saya telah mengubah cipta, rasa, dan karsa? Apakah kawruh sudah menjadi laku?

Pertanyaan tersebut penting karena kawruh yang tidak menyentuh kehidupan belum menghasilkan perubahan yang mendalam.

Kesadaran sebagai Jalan Menuju Urip Sejati.
Urip Sejati bukan hanya sesuatu yang diketahui, tetapi sesuatu yang dijalani.

Karena itu, kesadaran menjadi salah satu jalan penting menuju Urip Sejati. Kesadaran membantu manusia tidak menjalani kehidupan secara otomatis berdasarkan kebiasaan dan dorongan.

Manusia yang sadar memiliki kesempatan untuk memilih. Ia dapat menyadari kemarahan sebelum bertindak, menyadari keserakahan sebelum mengambil sesuatu, menyadari keakuan sebelum merendahkan orang lain, dan menyadari ketakutan sebelum mengambil keputusan.

Semakin berkembang kesadaran, semakin terbuka kemungkinan bagi manusia untuk menjalani kehidupan dengan lebih jernih.

Dengan demikian, kesadaran tidak hanya membuat manusia tahu bahwa dirinya hidup. Kesadaran membantu manusia menyadari bagaimana dirinya hidup.

Kesadaran Harus Menjadi Laku.
Kesadaran tidak cukup hanya dirasakan dalam pengalaman batin. Kesadaran harus terlihat dalam kehidupan nyata.

Jika seseorang merasa dirinya sadar tetapi masih mudah dikuasai kemarahan, kesombongan, keakuan, dan berbagai dorongan yang merusak, maka kesadaran tersebut perlu terus ditumbuhkan.

Ukuran kesadaran bukan pengalaman luar biasa, bukan banyaknya waktu melakukan latihan tertentu, dan bukan kemampuan berbicara mengenai kesadaran.

Kesadaran terlihat dari perubahan dalam kehidupan: semakin mampu mengendalikan diri, semakin jernih dalam berpikir, semakin tulus dalam merasa, semakin bijaksana dalam menentukan kehendak, dan semakin bertanggung jawab dalam bertindak.

Dengan demikian, kesadaran menjadi nyata ketika berubah menjadi laku.

Penutup.
Hakikat kesadaran dalam Kawruh Urip Sejati adalah kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan dirinya, memahami keadaan batinnya, serta melihat bagaimana cipta, rasa, dan karsa mempengaruhi kehidupannya.

Kesadaran bukan sekadar aktivitas berpikir, bukan sekadar keadaan terjaga, dan bukan pula Kawruh Sejati. Kawruh Sejati merupakan kawruh mengenai kasunyatan sejati, Kawruh Urip Sejati merupakan pemahaman mengenai kehidupan berdasarkan kawruh tersebut, sedangkan kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari dan menghayati kehidupannya.

Kesadaran memiliki fungsi penting karena melalui kesadaran manusia dapat mengenali dirinya, menata cipta menuju Weninging Cipta, menata rasa menuju Tulusing Rasa, dan mengarahkan karsa menuju Karsa Sejati.

Pada akhirnya, kesadaran bukan tujuan yang berhenti pada pengalaman batin. Kesadaran harus menjadi dasar perubahan dalam kehidupan. Manusia yang semakin sadar seharusnya semakin mampu menjalani kehidupannya dengan kejernihan, ketulusan, dan keutamaan.

Kawruh Urip Sejati mengajarkan pemahaman tentang kehidupan; kesadaran membantu manusia menyadari kehidupan tersebut; dan Urip Sejati diwujudkan ketika kehidupan dijalani sesuai dengan hakikatnya.

FAQ - Hakikat Kesadaran Dalam Kawruh Urip Sejati.

1. Apa hakikat kesadaran dalam Kawruh Urip Sejati?
Kesadaran adalah kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan dirinya, keadaan batinnya, serta proses cipta, rasa, dan karsa yang memengaruhi kehidupannya.

2. Apakah kesadaran sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kawruh Sejati adalah kawruh mengenai kasunyatan sejati, sedangkan kesadaran adalah kemampuan manusia untuk menyadari dan memahami keadaan dirinya serta kehidupannya.

3. Apakah kesadaran sama dengan pikiran?
Tidak. Pikiran merupakan aktivitas untuk berpikir dan mengolah sesuatu, sedangkan kesadaran memungkinkan manusia menyadari pikiran dan keadaan dirinya tanpa harus langsung dikuasai oleh pikiran tersebut.

4. Apa hubungan kesadaran dengan Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Karsa Sejati?
Kesadaran membantu manusia mengenali dan menata cipta, rasa, serta karsa sehingga ketiganya dapat diarahkan menuju kejernihan, ketulusan, dan keutamaan.

5. Mengapa kesadaran menjadi penting dalam Kawruh Urip Sejati?
Karena kesadaran membuat manusia tidak sekadar menjalani kehidupan secara otomatis. Kesadaran membantu manusia memahami bagaimana dirinya hidup dan memilih laku yang sesuai dengan pemahamannya.

6. Bagaimana mengetahui bahwa kesadaran mulai berkembang?
Perkembangannya dapat terlihat dari kemampuan mengenali diri, menyadari dorongan sebelum bertindak, mengakui kesalahan, mengurangi keakuan, serta semakin jernih, tulus, dan utama dalam menjalani kehidupan.

Komentar